Hikmah Puasa Dalam Pengertian Ibadah Islam

Pengertian Ibadah Dalam Islam


     Allah Swt. menciptakan manusia agar mengenal dan menyembah-Nya, menunaikan hak-hak rububiyah dan uluhiyah-Nya. Allah Swt. berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

     Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya beribadah kepada-ku. (Adz-Dzariyat:56)

     Karena itu, Islam menjadikan penghambaan (ta'abud atau ibadah) kepada Allah sebagai kewajiban pertama yang dituntut dari seorang Muslim. Rukun-rukun Islam, yang terdiri dari dua kalimat syahadat, mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, ibadah puasa ramadhan, dan pergi haji ke Baitullah, merupakan perwujudan dari ta'abud kepada Allah Swt.

     Islam membagi ibadah menjadi beberapa bagian:
  1. Islam yang dilaksanakan oleh orang Muslim dan memerlukan aktivitas fisik, misalnya shalat dan puasa. Ibadah ini dinamakan ibadah jasadiyah.
  2. Ibadah yang dilaksanakan dengan mengeluarkan sebagaian hartanya, misalnya zakat dan sedekah, dinamakan ibadah maliyah.
  3. Ibadah yang memerlukan harta dan kekuatan fisik, misalnya haji dan umroh.
  4. Ibadah ibadah yang tampak bentuk pelaksanaannya, misalnya shalat, zakat, dan haji.
  5. Ibadah ibadah yang bentuknya pengendalian dan penahanan diri, contohnya puasa.
     Sehubungan dengan pengendalian dan penahanan diri dalam kaitan ini bukan dalam konteks yang negatif, maka yang menjadikannya bernilai ibadah adalah jika seorang Muslim melakukannya bernilai ibadah adalah jika seorang Muslim melakukannya dengan kemauan dan pilihannya sendiri, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dengan demikian, ini termasuk aktivitas fisik (amal badaniy), aktifvitas jiwa (amal nafsiy), dan aktivitas positif (amal ijabiy), yang memiliki bobotnya sendiri dalam timbangan kebenaran.

Makna Puasa Menurut Syara'

     Puasa yang diperintahkan, yang dituangkan nashnya dalam Al-Qur'an dan sunah, berarti meninggalkan dan menahan diri. Dengan kata lain menahan dan mencegah diri dari memenuhi hal- hal yang boleh, meliputi keinginan perut dan keinginan kelamin, dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Swt.

     Inilah makna dari puasa secara syar'i itu: menahan dan mencegah diri secara sadar dari makan, minum, orang bersetubuh dengan perempuan dan hal-hal semisalnya, selama sehari penuh. Yakni dari kemunculan fajar hingga terbenamnya matahari, dengan niat memenuhi perintah dan taqarub kepada Allah Swt.

     Dalil yang menunjukkan bahwa puasa yang syar'i adalah menahan diri dari dua nafsu syahwat sebagaimana disebutkan di depan, adalah firman Allah.,

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّـهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ ۖ فَالْـٰٔنَ بٰشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا۟ مَا كَتَبَ اللَّـهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا۟ وَاشْرَبُوا۟ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا۟ الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ

     Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. (Al-Baqarah:187)

     Ayat ini menjelaskan hakikat puasa yang diperintahkan ayat sebelumnya, yakni suami dan istri di malam bulan Ramadhan. Ini didasarkan pada kalimat,

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

     Mereka itu adalah pakaian bagi kalian dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka...

     Sebagaimana juga memperbolehkan makan dan minum sepanjang malam hingga terbit fajar, kemudian memerintahkan menyempurnakan puasa hingga malam, yaitu hingga terbenamnya matahari. Keterangan di atas diperkuat dari beberapa kumpulan hadis Qudsi, salah satu hadits Qudsi yang sahih, bahwa Allah Swt. berfirman,

كُلُّ عَمَلِ َاْبنِ آدَمَ لَهُ الصَوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ ، يَدْعُ طَعَامَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِيْ

     Semua amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Ia untuk-ku dan Aku yang akan memberinya pahala. Anak Adam meninggalkan makan dan syahwatnya karena-Ku. (HR. Bukhari dan Muslim)

     Dalam riwayat lain dikatakan,

يَدْعُ طَعَامَهُ مِنْ أَجْلِيْ وَيَدْعُ شَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ وَيَدْعُ شَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِيْ وَيَدْعُ زَوْجَتَهُ مِنْ أَجْلِيْ

     Dia meninggalkan makanannya karena-Ku, meninggalkan minumannya karena-Ku, meninggalkan syahwatnya karena-Ku, dan meninggalkan istrinya karena-Ku. (HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab Sahih-nya)

     Tampaknya, makna puasa semisal ini telah dikenal oelh bangsa Arab sebelum islam. Banyak hadits shahih yang menerangkan bahwa mereka sudah biasa melaksanakan puasa asyura di zaman jahiliah untuk menghormati hari itu. Karena itu mereka diperintahkan Nabi Saw. untuk mengerjakan puasa asyura, kemudian diperintahkan berpuasa bulan Ramadhan sebagaimana perintah Allah Swt.,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ

     ... Telah diwajibkan atas kalian berpuasa (Ramadhan) ... (Al-Baqarah:183)

     Mereka paham maksud ayat ini dan segera melaksanakannya.

     Tatkala beberap orang Arab Badui bertanya kepada Nabi Saw. tentang Islam, beliau menyebut shalat lima waktu dan puasa Ramadhan. Mereka tidak bertanya perihal puasa karena sudah merea pahami, namun mereka bertanya. "Apakah ada yang lain?"

     Inilah puasa Islam itu, yang merupakan seutama-utamanya puasa yang dikenal manusia. Sebagian penganut agama tertentu berpuasa dengan tidak menyantap makhluk yang bernyawa, namun melahap semua jenis makanan dan minuman yang lezat, selain bahwa mereka tidak berpuasa dari nafsu seksual.

     Sebagian yang lain berpuasa berhari-hari secara terus-menerus, sehingga fisik dan jiwanya merasakan beban berat, hingga tidak ada yang dapat melakukan kecuali orang-orang tertentu.

     Adapun puasa yang diwajibkan Islam, bisa ditunaikan oleh semua kaum Muslimin, yang awam maupun kelompok tertentu.

Hikmah Puasa

     Islam tidak mensyariatkan sesuatu selain pasti mengandung hikmah; ada yang diketahui, ada pula yang tidak. Demikian juga, perbuatan-perbuatan Allah tidak lepas dari berbagai hikmah yang terkandung dalam ciptaan-Nya, hukum-hukum-Nya pun tidak lepas dari lautan hikmah. Dia Mahabijaksana dalam penciptaan-Nya, Mahabijaksana dalam perintah-Nya, tidak pernah menciptakan sesuatu yang batil, dan tidak pernah mensyariatkan suatu hukum yang sia-sia.

     Ini semua terkandung dalam aspek-aspek ibadah dan muamalah secara keseluruhan, juga terkandung dalam hal-hal yang diwajibkan dan hal-hal yang diharamkan.

     Sesungguhnya Allah Swt. tidak berhajat kepada apapun, namun hamba-hamba-Nyalah yang menghajatkan-Nya. Dia tidak mendapatkan manfaat dari ketaatan hamba-hamba-Nya sedikitpun, tidak juga mendapatkan mudarat dari pembangkangan mereka. Hikmah dari ketaatan akan kembali kepada orang-orang mukalaf itu sendiri.

     Dalam ibadah puasa ramadhan dan hikmahnya terdapat sejumlah mashlahat, sebagaimana telah diisyaratkan oleh nash-nash syariat itu sendiri.

Diantaranya adalah:
  1. Tazkiyah an-nafs (pembersihan jiwa), dengan mematuhi perintah-perintah-Nya, menjahui segala larangan-Nya, dan melatih diri untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah semata, meskipun itu dilakukan dengan dengan menahan diri dari hal-hal yang menyenangkan dan membebaskan diri dari hal-hal yang lekat sebagai kebiasaan. Kalau saja mau, ia bisa saja makan, minum, bersetubuh dengan istrinya, dan tiada seorang pun yang mengetahui. Akan tetapi ia meninggalkan semua itu semata-mata karena Allah Swt. Tentang ini, Rasulullah Saw. berkata,

    وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ ، لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللّٰهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ ، يَتْرُكُ طَعَمَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِيْ . كُلُّ عَمَلِ ِابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ

         Demi Dzat yang diriku ada ditangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. Dia tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan dengan istrinya karena-Ku. Tiap-tiap amal bani Adam baginya, kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberinya pahala. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Al-Lu'lu wal Marjan, hal.706)
  2. Beberapa manfaat puasa, disamping menyehatkan badan sebagaimana dinyatakan oleh para dokter spesialis bisa jua mengangkat aspek kejiwaan mengungguli aspek materi dalam diri manusia. Manusia, sebagaimana sering dipersepsi banyak orang, memiliki tabiat ganda. Ada unsur tanah, ada pula unsur ruh Ilahi yang ditiupkan Allah padanya. Satu unsur menyeret manusia ke bawah, unsur yang lain mengangkatnya ke atas.

    Jika unsur tanah dominan, ia akan turun ke derajat binatang atau bahkan lebih rendah daripadanya. Sebaliknya, apabila ruh Ilahi yang menguasai, ia akan melambung tinggi kederajat malaikat. Dalam puasa terdapat kemenangan ruh Ilahi atas materi, akal pikiran atas nafsu syahwat.

    Inilah barangkali rahasia kebahagiaan sehari-hari yang dirasakan oleh orang yang berpuasa setiap mendapati puasanya sempurna hingga waktu berbuka puasa, sebagaimana disabdakan Nabi Saw. dalam sebuah haditsnya,

    لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا ، إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ ِبِفِطْرِهِ وَإِذَا رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِه

         Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: ketika berbuka ia berbahagia dengan berbukanya itu, ketika bertemu dengan Tuhan-nya, ia berbahagia dengan puasanya itu. (Bukhari dan Muslim, lihat Al-Lu'Lu wal Marjan, hal.707)
  3. Terbukti bahwa puasa merupakan tarbiah bagi iradah (kemauan), jihad bagi jiwa, pembiasaan kesabaran, dan "pemberontakan" kepada hal-hal yang telah lekat mentradisi. Adakah manusia kecuali pasti memiliki kemauan? Adakah kebaikan selain pasti mengandung kemauan? Adakah agama selain kesabaran untuk taat atau kesabaran menghadapi maksiat? Puasa mewakili dua kesabaran itu.

    Karenanya tidak mengherankan ketika Rasulullah Saw. menamakan bulan Ramadhan sebagai syahr ash-shabr (bulan kesabaran). Sebuah hadits berkata,

    صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةُ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، يُذْهِبْنَ وَحْرَ الصَّدْرِ

         Puasa bulan kesabaran dan tiga hari dalam setiap bulan dapat melenyapkan kedengkian dalam dada. (HR. Bazzar dari Ali dan Ibnu Abbas, dan Thabrani dan Baghawy dari Namr bin Tulab. Lihat Al-Jami' Ash-Shagir 3804)

    Sebagaimana halnya Nabi Saw. menganggap الصِّيَامُ جُنَّةٌ  puasa sebagai junnah ("perisai" - Hadits ini diriwayatkan melalui banyak sanad dari sejumlah sahabat, di antaranya dari Abu Hurairah dalam Bukhari dan Muslim.) untuk melindungi diri dari dosa ketika di dunia, dan untuk menyelamatkan diri dari api neraka di akhirat. Rasulullah Saw. bersabda,

    الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ

         Puasa adalah perisai dari api neraka, seperti perisainya salah seorang kalian dalam peperangan. (HR.Ahmad, Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Hiban, dan Ibnu Khuzaimah dari Utsman bin Abil Ash, sahih Al-Jami' Ash-Shaghir 3879)

    Dalam riwayat lain beliau Saw. bersabda,

    الصِّيَامُ جُنَّةٌ وَهُوَ حِصْنٌ مِنْ حُصُونِ الْمُؤْمِنِ

         Puasa adalah perisai. Ia adalah benteng dari sekian banyak benteng orang Mukmin. (HR. Thabrani dari Abi Umamah, derajatnya hasan sahih. Al-Jami' Ash-Shaghir A/3881)
  4. Sudah sama-sama dipahami bahwa nafsu seksual adalah senjata yang paling ampuh untuk menundukkan manusia, sehingga sejumlah aliran psikologi menganggap bahwa ia adalah penggerak utama semua perilaku manusia.

    Siapapun yang mengamati medan peradaban Barat sekarang ini, dengan berbagai bentuk dekadensi moral dan mewabahnya berbagai penyakit, mendapatkan pelajaran bahwa penyelewengan naluri ini mengakibatkan lahirnya berbagai kondisi yang menjadi refleksinya.

    Puasa berpengaruh menahan nafsu syahwat dan mengangkat tinggi-tinggi nalurinya, khususnya jika terus menerus melakukan puasa dengan mengharap pahala Allah Swt. Karena itu, Rasulullah Saw. memerintahkan puasa kepada pemuda yang belum mampu menikah, hingga Allah melimpahkan karunia-Nya kepadanya. Beliau Saw. bersabda,

    يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

         Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu maka nikahlah. Sesungguhnya ia lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedangkan barangsiapa tidak mampu maka berpuasalah, karena sesungguhnya puasa itu "pengebirian" baginya. (Bukhari dari Ibnu Mas'ud dalam kitab Shaum dan Lainnya, Muslim 1400)

    Maksudnya, hikmah ibadah puasa dapat menurunkan dorongan nafsu syahwat kepada lawan jenis.
  5. Diantara sekian banyak hikmah-hikmah puasa adalah menajamkan perasaan terhadap nikmat Allah Swt. kepadanya. Akrabnya nikmat bisa membuat orang kehilangan perasaan terhadap nilainya. Ia tidak mengetahui kadar kenikmatan, kecuali jika sudah tidak ada di tangannya. Dengan hilangnya nikmat, berbagai hal dengan mudah dibedakan.

    Seseorang dapat merasakan nikmatnya kenyang dan nikmatnya pemenuhan dahaga jika ia lapar atau kehausan. Jika ia merasa kenyang setelah lapar, atau hilang dahaga setelah kehausan, akan keluar dari relung  hatinya ucapan alhamdulillah. Hal itu mendorongnya untukmensyukuri nikmat-nikmat Allah kepadanya. Inilah yang diisyaratkan oleh hadits riwayat Ahmad dan Tirmidzi, yang Nabi Saw. bersabda,

    عَرَضَ عَلَيَّ رَبِّيْ لِيَجْعَلَ لِيْ بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا ، فَقُلْتُ : لَايَارَبَّ ، وَلَكِنِّيْ أَشْبَعُ يَوْمًا وَأَجُوْعُ يَوْمًا ، فَإِذَا جُعْتُ تضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ وَإِذَا شَبِعْتُ وَشَكَرْتُكَ

         Tuhanku pernah menawariku untuk menjadikan kerikil di Makkah emas. Aku menjawab, "Tidak, wahai tuhanku. Akan tetapi aku kenyang sehari dan lapar sehari. Apabila aku lapar, aku merendah sembari berzikir kepada-Mu, dan apabila aku kenyang, aku memuji-Mu dan bersyukur kepadamu-Mu. (Riwayat Ahmad dan Tirmidzi dari Abi Umamah.)
  6. Selain itu, puasa juga mempunyai hikmah ijtima'iyah (hikmah sosial), Puasa ini dengan memaksa orang untuk lapar, sekalipun mereka bisa kenyang memiliki sejenis persamaan umum yang dipaksakan, menanamkan dalam diri orang-orang yang mampu agar berempati terhadap derita orang-orang fakir miskin. Atau sebagaimana yang dikatan oleh Ibnul Qayim, "Ia dapat mengingatkan mereka akan kondisi laparnya orang-orang miskin."

    Al-Allamah Ibnu Hammam berkata, "Tatkala ia merasakan pedihnya lapar pada sebagian waktunya, ia akan teringat perasaan ini diseluruh waktunya, lalu timbullah padanya rasa kasihan." (Fath Al-Qadir 2/42)

    Pada bulan Ramadhan ini terdapat peringatan praktis selama sebulan penuh, yang mengajak kepada sikap kasih sayang, persamaan, dan lemah lembut, antara satu individu dengan yang lain. Karena itu, dalam beberapa riwayat, Ramadhan disebut sebagai شَهْرُ الْمُوَاسَاةِ  syahr al-muwasah "bulan solidaritas" (Dari salman dalam Sahih Ibnu Khuzaimah, dalam sanadnya ada seorang rawi yang bernama Ali bin Zaid bin Ja'an.) dan Nabi Saw. lebih pemurah dalam memberikan kebaikan dibanding angin yang bertiup (sebagaimana disebutkan dalam riwayat Bukhari dan Muslim).

    Atas dasar itu, maka salah satu amal yang paling utama pahalanya adalah memberi makan untuk berbuka puasa. Nabi Saw. bersabda,

    مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

         Barangsiapa memberi makan untuk berbuka orang yang berpuasa, ia mendapat pahala seperti pahalanya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa itu. (Riwayat Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hiban dalam Sahih-nya dari Zaid bin Khalid. Lihat Sahih Al-Jami' Ash-Shaghir 6415)
  7. Gabungan dari semua itu, adalah bahwa puasa dapat mempersiapkan orang menuju derajat takwa dan naik ke kedudukan orang-orang mutaqin. Ibnul Qayim berkata, "Puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam memelihara fisik, memelihara kekuatan batin, dan mencegah bercampuraduknya berbagai bahan makanan yang merusak kesehatan. Puasa memelihara kesehatan hati dan anggota badan, serta mengembalikan lagi hal-hal yang telah dirampas oleh tangan-tangan nafsu syahwat. Ia adalah sebesar-besar pertolongan untuk membangn takwa, sebagaimana firman Allah Swt.,

    يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

         Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian puasa, sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. (Al-Baqarah:183)

    Adalah benar bahwa puasa Ramadhan merupakan madrasah mutamayizah (sekolah istemewa) yang dibuka oleh Islam setiap tahun  untuk proses pendidikan  praktis menanamkan seagung-agung nilai dan setinggi-tinggi hakikat. Barang siapa memasukinya, menjalin hubngan dengan tuhannya disana, mengerjakan puasa yang baik sebagaimana yang disyariatkan Rasulullah Saw. ia telah berhasil menempuh ujian dan keluar dari musim ujian ini dengan mendapatkan keuntungan yang besar dan penuh berkah. Keuntungan apalagi yang lebih besar daripada menerima ampunan dan diselamatkan dari api neraka?

    Abu Hurairah r.a meriwayatkan dari Rasulullah Saw., beliau bersabda,

    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

         Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu... Barang-siapa menegakkan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber :
Fiqih Puasa dan Hikmah Puasa
Fiqih Puasa dan Hikmah Puasa
Penyusun Dr. Yusuf Qardhawi
Keywords : Hikmah Puasa - Puasa Ramadhan - Buka Puasa - Doa Puasa - Niat Puasa - Berbuka Puasa - Manfaat Puasa - Hamil Puasa - Jadwal Puasa

Description: Hikmah Puasa Dalam Pengertian Ibadah Islam Rating: 5 Reviewer: Yusuf Qardhawi - ItemReviewed: Hikmah Puasa Dalam Pengertian Ibadah Islam Ping your blog, website, or RSS feed for Free

Poskan Komentar